Piagam Gumi Sasak :
Membangun Kembali Citra Sejati
Bangsa Sasak Baru
Modernisasi
sebagai dampak dari arus globalisasi ditandai dengan mudahnya penerimaan budaya
baru dalam masyarakat menuju kehidupan modern, yang didukung dengan pesatnya
kemajuan dalam bidang teknologi. Mudahnya penerimaan budaya asing, menyebabkan
kultur budaya lokal mulai tergeserkan yang menyebabkan terjadinya krisis
identitas bangsa.
Sebagai
negara yang besar Indonesia dibangun oleh beragam suku bangsa. Berdasarkan data
statistik terdapat 250 suku bangsa/etnis, serta terdapat 250 bahasa yang
berkembang di Indonesia (PDSPK, 2016). Salah satu bangsa besar yang membangun
Indonesia adalah bangsa Sasak yang berasal dari Lombok.
Sebagai
bangsa yang besar, bangsa Sasak pun kini telah terkena dampak dari arus
globalisasi dan modernisasi. Bangsa Sasak yang ada saat ini tidak lagi murni
karena telah terkontaminasi oleh pengaruh
budaya asing. Mudahnya penerimaan budaya asing yang tidak difilter terlebih dahulu menyebabkan
terjadinya pembohongan sejarah, mengaburkan, serta menghapuskan sejarah sasak
yang murni. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kegelisahan dikalangan
masyarakat yang perihatin terhadap keberlangsungan budaya Sasak sendiri.
Sejalan
dengan hal tersebut, Murahim, S.Pd., M.Pd sebagai salah satu dosen Pendidikan
Bahasa Dan Sastra Universitas Mataram mengatakan bahwa bangsa Sasak kini
mengalami ketidakjelasan arah serta alur kebudayaan, penghilangan nilai-nilai
kearifan lokal, serta sejarah yang
diobrak abrik oleh kepentingan penguasa yang menyebabkan keberadaan bangsa Sasa
k saat ini begitu memprihatinkan.
Melihat
hal tersebut beberapa kalangan yang perihatin serta peduli terhadap
keberlangsungan budaya sasak, ingin melakukan suatu gerakan yang bertujuan untuk
memurnikan kembali nilai-nilai luhur budaya Sasak. Sebagai perwujudan dari
gerakan tersebut, maka diikrarkanlah “Piagam Gumi Sasak” pada tanggal 26
Desember 2015 (14 Mulut Tahun Jimawal/1437 H) di Museum Negeri NTB. Proses ikrar
yang disaksikan langsung oleh beberapa tokoh mulai dari tokoh agama, tokoh
adat, hingga kalangan akademisi.
Menurut
Drs. Muhammad Fadjri, MA sebagai dosen Bahasa Inggris Universitas Mataram, sejatinya menjadi bangsa Sasak adalah amanah, dimana
masyarakatnya merupakan orang-orang yang sangat unggul di masa lalu. Ikrar “Piagam
Gumi Sasak” sebagai solusi dalam mengembalikan amanah tersebut pada jalannya,
serta sebagai langkah strategis dalam membangun citra sejati Sasak baru. Pembangunan
citra sejati Sasak baru dilakukan dengan cara membangun kembali khazanah ilmu
pengetahuan masyarakat Sasak yang murni. Khazanah tersebut harus dipelihara,
dijaga, serta dikembangkan agar sesuai dengan roh budaya Sasak.
Piagam
Gumi Sasak sendiri telah melewati proses yang panjang dalam perumusannya.
Revisi dilakukan oleh beberapa tim ahli mulai dari perubahan nama yang
semulanya “Manufesto Kebudayaan” menjadi “Piagam Gumi Sasak”, serta perubahan
pada isi piagam itu sendiri.
PIAGAM
GUMI SASAK
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi
bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan
matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan
tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang
sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai
bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya
Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri,
sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih
berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang
ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern.
Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak
di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya
sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami
anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama :Berjuang bersama menggali dan
menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua :Berjuang bersama
memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar
terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh
budaya Sasak.
Ketiga :Berjuang bersama
menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang
membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai
religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :Berjuang bersama membangun citra
sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima :Berjuang bersama dalam
satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam
bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan
serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat
manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal/
1437 H (26 Desember 2015)
Melihat isi
dari piagam tersebut, maka bangsa Sasak sebagai bagian dari kekayaan negara Indonesia
sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Tantangan
dalam memurnikan kembali nilai-nilai yang budaya Sasak yang telah mengalami
kontaminasi, pengaburan, penghapusan serta pembohongan sejarah di tengah era
globalisasi saat ini menjadi tugas bersama yang harus diselesaikan.


Mantap
BalasHapusArtikel yang sarat akan makna budaya.
BalasHapusSemoga budaya sasak selalu lestariii ♥ trrimakasih artikelnya kak meruem
BalasHapusMemang adat sasak itu unik dan harus di pertahankan. Terima kasih infonya
BalasHapusAdat sasak bikin bangga orang sasak
BalasHapusWiiih sasak memang kereen. Terimakasih min
BalasHapusSasak merdeka 😊
BalasHapusSangat bermanfaat yg disampaikan penulis
BalasHapusSopok rase piak cerite....
BalasHapusSasak is the best
😘😅😅😅😅
BalasHapusTerima Kaasih
BalasHapus