Kamis, 28 Desember 2017

Piagam Gumi Sasak



Piagam Gumi Sasak :
Membangun Kembali Citra Sejati Bangsa Sasak Baru

Modernisasi sebagai dampak dari arus globalisasi ditandai dengan mudahnya penerimaan budaya baru dalam masyarakat menuju kehidupan modern, yang didukung dengan pesatnya kemajuan dalam bidang teknologi. Mudahnya penerimaan budaya asing, menyebabkan kultur budaya lokal mulai tergeserkan yang menyebabkan terjadinya krisis identitas bangsa.
Sebagai negara yang besar Indonesia dibangun oleh beragam suku bangsa. Berdasarkan data statistik terdapat 250 suku bangsa/etnis, serta terdapat 250 bahasa yang berkembang di Indonesia (PDSPK, 2016). Salah satu bangsa besar yang membangun Indonesia adalah bangsa Sasak yang berasal dari Lombok.
Sebagai bangsa yang besar, bangsa Sasak pun kini telah terkena dampak dari arus globalisasi dan modernisasi. Bangsa Sasak yang ada saat ini tidak lagi murni karena telah terkontaminasi oleh pengaruh  budaya asing. Mudahnya penerimaan budaya asing yang tidak difilter terlebih dahulu menyebabkan terjadinya pembohongan sejarah, mengaburkan, serta menghapuskan sejarah sasak yang murni. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kegelisahan dikalangan masyarakat yang perihatin terhadap keberlangsungan budaya Sasak sendiri.
Sejalan dengan hal tersebut, Murahim, S.Pd., M.Pd sebagai salah satu dosen Pendidikan Bahasa Dan Sastra Universitas Mataram mengatakan bahwa bangsa Sasak kini mengalami ketidakjelasan arah serta alur kebudayaan, penghilangan nilai-nilai kearifan lokal,  serta sejarah yang diobrak abrik oleh kepentingan penguasa yang menyebabkan keberadaan bangsa Sasa k saat ini begitu memprihatinkan.
Melihat hal tersebut beberapa kalangan yang perihatin serta peduli terhadap keberlangsungan budaya sasak, ingin melakukan suatu gerakan yang bertujuan untuk memurnikan kembali nilai-nilai luhur budaya Sasak. Sebagai perwujudan dari gerakan tersebut, maka diikrarkanlah “Piagam Gumi Sasak” pada tanggal 26 Desember 2015 (14 Mulut Tahun Jimawal/1437 H) di Museum Negeri NTB. Proses ikrar yang disaksikan langsung oleh beberapa tokoh mulai dari tokoh agama, tokoh adat, hingga kalangan akademisi.
Menurut Drs. Muhammad Fadjri, MA sebagai dosen Bahasa Inggris Universitas Mataram, sejatinya menjadi bangsa Sasak adalah amanah, dimana masyarakatnya merupakan orang-orang yang sangat unggul di masa lalu. Ikrar “Piagam Gumi Sasak” sebagai solusi dalam mengembalikan amanah tersebut pada jalannya, serta sebagai langkah strategis dalam membangun citra sejati Sasak baru. Pembangunan citra sejati Sasak baru dilakukan dengan cara membangun kembali khazanah ilmu pengetahuan masyarakat Sasak yang murni. Khazanah tersebut harus dipelihara, dijaga, serta dikembangkan agar sesuai dengan roh budaya Sasak.
Piagam Gumi Sasak sendiri telah melewati proses yang panjang dalam perumusannya. Revisi dilakukan oleh beberapa tim ahli mulai dari perubahan nama yang semulanya “Manufesto Kebudayaan” menjadi “Piagam Gumi Sasak”, serta perubahan pada isi piagam  itu sendiri.
PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama           :Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua           :Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga            :Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat         :Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima        :Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal/ 1437 H (26 Desember 2015)

Melihat isi dari piagam tersebut, maka bangsa Sasak sebagai bagian dari kekayaan negara Indonesia sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Tantangan dalam memurnikan kembali nilai-nilai yang budaya Sasak yang telah mengalami kontaminasi, pengaburan, penghapusan serta pembohongan sejarah di tengah era globalisasi saat ini menjadi tugas bersama yang harus diselesaikan.

11 komentar:

Piagam Gumi Sasak

Piagam Gumi Sasak : Membangun Kembali Citra Sejati Bangsa Sasak Baru Modernisasi sebagai dampak dari arus globalisasi ditandai de...