PARADIGMA N
(NYONGKOLAN) : APA YANG SALAH?
Lombok- Tradisi pernikahan di berbagai daerah memiliki keunikan tersendiri termasuk di Lombok. Rentetan
ritual pernikahan yang panjang serta sakral dilakukan secara berurutan. Tahap akhir ritual ini ditandai
dengan diantarnya mempelai wanita beserta rombongan mempelai pria ke rumah
keluarga mempelai wanita, proses ini biasa dikenal dengan istilah “Nyongkolan”.
Seiring dengan perkembangan zaman, paradigma masyarakat terhadap ritual
ini mulai bergeser. Dahulu tradisi nyongkolan begitu ditunggu-tunggu oleh
masyarakat, selain sebagai bagian dari ritual pernikahan, nyongkolanpun bisa
menjadi wahana hiburan bagi masyarakat yang melihatnya. Namun berbeda dengan
saat ini, nyongkolan dianggap sebagai biang kemacetan dan keributan.
Bertolak dari paradigma masyarakat, Murahim sebagai salah satu dosen
Sastra di Universitas Mataram mengatakan bahwa sejatinya nyongkolan adalah
ritual suci, yang sakral dan sarat akan makna. Esensi nyongkolan sendiri
digunakan sebagai media syiar untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa
telah berlangsung pernikahan antara si Fulan bin Fulan dengan Fulanah binti Fulan. Iring-iringan nyongkolan
yang beragam mulai dari pemuka agama, tokoh adat, mempelai wanita, pengiring
mempelai wanita, mempelai pria, pengiring mempelai pria, hingga rombongan pemain
musik diatur dengan begitu rapi sehingga memperlihatkan keindahan. Nyongkolan
dilakukan dengan teratur, rapi dan tertib sehingga tidak menimbulkan kemacetan.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Cedin Atmaja, dosen Folklor di
Universitas Mataram. Menurtunya, nyongkolan merupakan tradisi yang tidak bisa
lepas dari masyarakat Lombok. Nyongkolan penuh dengan makna dan merupakan
ritual yang suci. Sistem barisan yang
ada disusun dengan mempertimbangkan beragam makna. Barisan terdepan memuat tokoh
adat, tokoh agama serta masyarakat yang mengandung makna penghormatan, serta
barisan mempelai wanita yang didahului sebelum mempelai pria mengandung makna
keamanan dan perlindungan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nyongkolan
merupakan bagian dari tradisi masyarakat Lombok. Nyongkolan merupakan bagian
penutup dari serangkaian acara pernikahan. Nyongkolan digunakan sebagai media
syiar untuk memberitahukan kepada khalayak ramai, bahwa telah dilangsungkannya
pernikahan. Nyongkolan bersifat religius dan merupakan ritual suci yang penuh
makna.
Sudah sepatutnya paradigma masyarakat terhadap nyongkolan perlu
diluruskan. Sebagai ritual suci yang sakral, nyongkolan tidak bisa dikatakan
mengganggu atau membuat keributan serta kemacetan. Tradisi nyongkolan perlu
terus dilestarikan. Pelurusan kembali paradigma masyarakat terhadap nyongkolan
diperlukan agar tradisi ini tidak lagi dianggap mengganggu. Selain itu,
pelurusan makna nyongkolan diharapkan dapat membantu masyarakat untuk ikut
serta dalam melestarikan tradisi yang telah ada sejak lama.
Fungsi tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tokoh agama mampu membantu
memberikan pemahaman yang benar serta pelurusan stigma negatif terhadap
nyongkolan yang telah berkembang saat ini. Serta generasi muda sebagai aset
bangsa khususnya masyarakat Lombok, diharapkan mampu menjadi tokoh penerus
dalam melestarikan tradisi ini.
Sangat bermanfaat dan menambah refrensi.
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusWahhh ...beneer bangett...
BalasHapusKereeennn......
Bangga sasak
BalasHapusBangga sasak
BalasHapusPenulisnya dari sumbawa tulisannya ttg nyongkolannn ....kreeen
BalasHapusBaper ๐ณ
BalasHapusKeren kak, semangat terus untuk menulis :)
BalasHapusNice!
BalasHapusUwwwwaaahhhh!!! Aaaaaa๐๐๐๐ bisa jadi contoh๐
BalasHapusAyo jagad, layli jg rajin" nulisnya yah
BalasHapusMenambah referensi, sangat bermanfaat
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus